WAT PHO DAN WAT ARUN THAILAND

Wat Pho, atau Wat Phra Cetuphon, adalah sebuah kuil Buddha terbesar dan tertua yang ada di Bangkok, Thailand. Terletak di Thanon Cetuphon, Wat Pho sudah dibangun pada 200 tahun sebelum Bangkok menjadi ibukota Thailand. Luasnya mencapai 20 acre! Dulunya, kuil ini bernama Wat Phodhara. Pada saat pemerintahan Raja Rama III (1824-1851), kuil ini lalu dibangun ulang hingga seperti sekarang ini.

Statue of Buddhist god at the entrance gate

Setelah melalui sederetan pedagang makanan pinggir jalan, kami masuk ke dalam kompleks kuil yang dijaga oleh sebuah patung dewa yang tinggi. Loket pembayaran ada di sebelah kanan. Harga tiket masuk untuk satu orang adalah 100 THB, yah, masih sesuai dengan anggaran lah. Tiket tersebut dapat digunakan untuk mendapatkan air mineral dingin secara gratis, lumayan. Kuilnya sendiri beroperasi dari pukul 08.00 sampai 17.00. Jadi nggak usah dateng subuh-subuh, kecuali mau ngelap-ngelapin patung-patungnya dulu.

Baca juga : PANDUAN LIBURAN KE NEGARA THAILAND UNTUK PERTAMA KALI

Meninggalkan loket tiket, kami pertama disambut dengan sebuah kuil kecil yang digunakan oleh beberapa pelancong untuk beribadah. Mengamati khusyuk umat yang tunduk berlutut di hadapan sang Buddha, menghirup aroma dupa yang harum dan menguar sampai ke luar altar pemujaan, aku merasakan ketenangan dan kedamaian. Dengan hati-hati, aku mencoba mengabadikan ritual sembahyang mereka agar jangan sampai aksi fotografiku merusak keteduhan umat.

Praying at the shrine

Lepas dari sang kuil kecil, kami memasuki tempat yang menjadi atraksi utama Wat Pho: Patung Buddha Berbaring (Reclining Buddha). Lokasinya berada persis di sisi kuil kecil tersebut. Untuk memasuki Kuil Buddha, kami harus melepas alas kaki kami yang disimpan di bagian depan. Ada gadis-gadis cilik yang bersiaga di depan pintu masuk, siap memberikan kain penutup aurat bagi mbak-mbak cabe yang datang dengan pakaian renang.

Menjulang setinggi 15 meter dan memanjang hingga 46 meter, patung Buddha Berbaring ini merupakan yang terbesar di Bangkok, bahkan Thailand! Lempengan emas yang membalut tubuhnya semakin menguatkan kesan agung dan suci yang terpancar darinya. Kami menikmati kemegahan Sang Buddha dengan menyusuri lorong memanjang beralaskan batu alam, di bawah lampu yang berpendar keemasan, diapit tiang-tiang kokoh yang berbalutkan ornamen etnik dekoratif.

The Reclining Buddha at Wat Pho

Daaaaaannn, kami harus antri buat foto di ujung patung Buddha Berbaring. Kami, para pelancong, saling tolong menolong untuk memfotokan, karena memang sepanjang pengamatan juga nggak ada wisatawan yang nenteng-nenteng tongsis atau menengadahkan kamera depan smartphone-nya. Maaf, kami bukan #TeamTongsis. Sayang, bagian kaki Buddha yang konon dihiasi ukiran 108 citra itu sedang dalam perawatan pedicure, biar tetep kinclong dan bersih.

Mengelilingi patung Buddha Berbaring, kami tiba di sisi yang membelakangi sang Buddha. Di situ, terdapat mangkok-mangkok yang dapat pengunjung isi dengan koin-koin keberuntungan. Belilah beberapa keping dari para wanita yang berjaga di balik meja kayu. Meski kau tak mempercayai kuasa koin-koin itu, setidaknya koin-koinmu akan terpakai untuk perawatan kuil.

Bowls of luck

The chedis at Wat Pho

Keluar dari Kuil Buddha Berbaring, kami berkeliling mengelilingi kompleks untuk menikmati apa saja yang disajikan. Ada sebuah kolam ikan koi yang berada di tengah kompleks, dikelilingi dengan bebatuan dan patung-patung batu. Dalam budaya Jepang dan Tiongkok, ikan koi sendiri merupakan lambang umur panjang dan kasih sayang. Itu karena ikan koi sendiri memang sanggup berumur sampai ratusan tahun, dan kata “koi” dalam bahasa Jepang memang berarti “cinta”. Rimbunnya pepohonan yang menaunginya dan suara gemericik airnya yang menyejukkan, membuat kolam ikan koi menjadi spot favorit untuk para pengunjung bersantai.

Wat Pho sendiri dikabarkan memiliki lebih dari seribu patung Buddha di dalamnya dengan 91 chedi (stupa bergaya Thai) dalam berbagai ukuran yang mengisinya. Ada sebuah kuil utama, dinamakan Bot, tolong jangan ambigu dengan istilah bot yang lain, yang dikungkung dengan dinding batu dan keempat vihara: Vihara Utara, Barat, Timur, dan Selatan. Di dalam Bot terdapat patung Buddha yang besar yang menjadi konsentrasi umat untuk beribadah.

The Four Chedis, Wat Pho

Buddha images at Wat Pho

Buddha image inside the Bot, Wat Pho

Selain Buddha Berbaring, Wat Pho juga identik dengan Empat Chedi-nya, yang masing-masing dinamakan Chedi Raja Rama II, Raja Rama III, Raja Rama IV, dan Phra Si Sanphet. Setiap chedi tampil cantik dan menarik dengan ornamen dekoratif dan warna-warni yang membalut tubuhnya.

Setelah puas berkeliling Wat Pho, lengkap dengan kulit yang panas terpanggang sinar matahari dan kaos yang basah oleh peluh, kami melenggang keluar dan berjalan menuju Wat Arun yang berada di seberang Sungai Chao Praya. Sambil mencoba mengganjal perut dengan menyantap Coconut Ice Cream (40 THB).

Dari dermaga Tha Tien, kami membayar ongkos seharga 6 THB untuk menyeberang ke Wat Arun dan kembali lagi ke dermaga semula. Perjalanan yang sangat singkat, namun lumayan untuk mengenal Bangkok lebih dekat.

Berdiri di tepi barat Sungai Chao Praya dengan menara tertingginya yang mengangkasa hingga 70 meter, Wat Arun menjadi salah satu landmark wisata populer di kota Bangkok. Disebut juga dengan nama Wat Chaeng, dan dijuluki Temple of The Breaking Dawn (Kuil Fajar Merekah), Wat Arun pertama kali dimimpikan oleh Raja Thaksin pada 1768.

Untuk masuk ke dalam Wat Arun, pengunjung membayar harga tiket masuk sebesar 50 THB. Tapi, dasar anak badung, aku diem-diem masuk ke dalam kuil melalui pintu belakang yang lolos dari penjagaan. Kuilnya sendiri nggak berukuran besar, dan bahkan saat itu sedang dalam renovasi dengan pilar-pilar ramping yang menyangga rangka luar candi. Astaga, kok di mana-mana lagi ada renovasi? Rasa-rasanya aku datang ke Bangkok di saat yang kurang tepat.

The stunning Wat Arun, Bangkok

Karenanya, nggak banyak yang bisa aku lakukan di dalam kompleks selain berkeliling dan mengambil foto. Padahal seharusnya pengunjung bisa menaiki tangga sampai di menara tertinggi dan menikmati panorama kota Bangkok dengan Sungai Chao Praya yang membelahnya.

Wat Arun ini memiliki gaya arsitektur yang sedikit unik dibandingkan dengan candi-candi lainnya di Bangkok. Alih-alih berbentuk seperti lonceng dengan balutan emas, menara-menara candi di Wat Arun meruncing menyerupai kerucut menghadap angkasa. Diselimuti dengan kaca berwarna dan porselen Tiongkok, membuatnya tampil berkelip-kelip saat ditimpa cahaya matahari. Maka, saat fajar dan senja adalah waktu terbaik untuk mengunjungi Wat Arun.

Konon, di Wat Arun jugalah Emerald Buddha disimpan pada awalnya, sebelum akhirnya dipindahkan ke dalam Wat Phra Kaew yang ada di dalam kompleks Grand Palace saat ini.

A golden Buddha image inside a viharn of Wat Pho

Beberapa penjual cinderamata menggelar lapaknya di depan kuil. Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati aktivitas sungai dengan duduk di tepian Chao Praya sambil memperhatikan perahu yang hilir mudik. Merasakan semilir angin kota yang bertiup hangat, menguapkan penat. Memandang jauh ke arah gedung-gedung jangkung pencakar langit yang menyesaki sisi timur kota Bangkok, tampil kontras jika membandingkan langsung dengan sisi barat yang lebih bersahaja.

Puas mengunjungi dua candi selama setengah hari, kami berjalan kembali menuju hostel untuk makan siang, mandi, dan berkemas untuk check-out. Semalam kami gagal mampir ke kawasan Siam untuk melihat sisi modern kota Bangkok. Jadi, malam ini, sepertinya kami akan senang-senang di Siam aja deh